dir-diare

Dari Logic ke Empati

Tahun 2026 dimulai dengan kebiasaan membaca yang aneh. Satu buku di Januari

Tahun 2026 dimulai dengan kebiasaan membaca yang aneh. Satu buku di Januari—Makanya, Mikir! dari Abigail dan Cania. Tapi itu cukup.Cukup untuk membuat saya penasaran. Februari datang dengan dua buku. Maret? Satu buku setiap satu atau dua minggu. Sekarang sudah Mei dan pola itu masih berlanjut.

empatlogi.png
empatlogi.png

Dahulukala

Dulu, ketika teman cerita tentang hubungan mereka—tentang bagaimana mereka sedih, terluka, selalu dirugikan—saya punya satu jawaban,

PUTUS SAJA.

"Buat apa bersama kalau lu selalu rugi, selalu sedih?”

Saya bilang itu tanpa ragu-ragu, seolah-olah cost-benefit analysis (CBA) adalah bahasa universal. Kalau mereka tetap bertahan, saya bilang mereka bodoh.

Saya tahu emosi adalah faktor. Tapi emosi terasa seperti noise di atas logika yang "sebenarnya."

Kemudian saya membaca Prinsipil Ekonomi dari Ferry Irwandi. Buku itu mengajarkan basic—memahami bahasa ekonomi dengan sederhana dan akurat. Tapi ada satu poin yang menggigit: manusia tidak pernah pure rational. Emosi selalu ada. Dan itu yang membuat manusia beragam, unik, tidak bisa diprediksi dengan logic sederhana.

Saya tahu ini secara teori. Tapi tahu ≠ percaya.

Lalu A Gentle Reminder dari Bianca Sparacino. Buku itu tentang diri sendiri dan intimacy, tapi pages yang saya baca terus-menerus adalah tentang bagaimana berharga rasanya ketika perasaan kamu dipahami.

Dipahami—bukan dilogika-kan.

Dikemudian Hari

Tidak ada saat spesifik ketika saya sadar berubah. Tapi sekarang, ketika teman cerita hal yang sama—tentang hubungan yang membuat mereka sedih—saya tidak langsung bilang putus. Saya bertanya,

“Kenapa kamu masih ingin mempertahankan?”

“Apa yang kamu lihat di dia?”

Saya minta mereka mengerti diri sendiri terlebih dahulu.

“Coba pikirkan—jangan dari segi ekonomi, meski itu yang paling terlihat. Tapi lihat dari segi mental dan kebahagiaan. Apakah itu sepadan dengan yang kamu pertahankan?”

Dan ketika mereka tetap bertahan,bodoh adalah label yang saya beri ke mereka. Sekarang saya mengerti bahwa mereka vulnerable terhadap omongan manis, janji-janji indah—karena mereka ingin percaya. Karena mereka butuh percaya. Dan itu wajar. Sangat wajar, apalagi kalau sedang jatuh cinta.

Tapi ini bukan transformation yang smooth. Ada momen ketika logic mode saya aktif, ketika insting pertama saya adalah: Ini tidak masuk akal. Dan saya harus—pause sebelum menjawab, mendengarkan emosi dulu sebelum logic mengambil alih. Saya harus mengingatkan diri sendiri: Ada konteks yang tidak saya lihat. Ada alasan yang valid.

Disaat ini

Saya merasa berbeda sekarang. Lebih tenang. Cukup tenang untuk tidak menghakimi, walau logic saya masih berteriak di background.